Ada Passompa Lao Riidi Maneng, Salessurekku.

Selamat datang di blog ini. Tidak dilarang mengutip karangan pemilik blog ini, asalkan tetap mencantumkan alamat blog ini atau mohon pemberitahuan di kotak loket. Tabik ceddek.

Selasa, Desember 16, 2008

Apa Kabar, Mei?

Kalender hampir lepas
tapi hari-hari ini tak lagi kulihat
wajahmu di koran-koran

Tak juga kudengar
suara pengamen atau televisi
menjajakan kisah-kisahmu

Apakah senyummu masih setia
menunggu pagi membawa sebait puisi
untuk bibir yang kian keriput itu?

Sementara aku hanya bisa menebak-nebak
arah yang tepat mengalamatkan rindu
sebab di sini hanya ada peta cinta buta

Kudoakan saja dari sepi yang jauh
semoga tahun depan kau tak lagi
bersedih, Mei.(16 des 2008)

Kamar Mandi

Wajahmu yang batu dan gelap muda. Seperti rahasia yang kami jaga sepanjang hari. Bila tiba saatnya mencuci diri. Kami buka semua ikatan agar segala rahasia menjadi terang. Pelan-pelan kami keluarkan urine dari dalam jiwa. Dan klosetmu selalu jujur sungguh memendamnya. Kami singkirkan bercak-bercak syahwat yang nempel di sekujur tubuh. Kami balur tubuh dengan sabun dan wewangian. Lalu kami pakai pakaian terbersih kami. Semoga Tuhan tersanjung dan segera membukakan pintu. Sebab kami tak banyak waktu untuk sekedar merengek. Kami akan kembali berlari mengejar siang. Mencari atau mencuri kata-kata. Demi puisi yang selalu membangunkan tidur kami. (16 des 2008)

Senin, Desember 15, 2008

Tiba-tiba Aku Teringat Almarhum Ayah

*dari lelakisenja.blogspot.com

Untuk Semua Yang Mencintai Ayah....

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya.
Anak wanita itu berguman : " Aku tidak mengerti."

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya:"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."
Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. "

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya. " AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Selasa, Desember 02, 2008

Seorang Tua dan HP Butut

HP-nya tak lagi lincah
Bekerja sehari penuh
Tak siang tak malam
Kantuk selalu merajam

Dihiburnya dengan kabel seutas
Mengalirlah desah-desah nafas
Dia tunggui seperti hansip
Sampai layar berkedip-kedip

‘Aku sudah puas, aku sudah puas
Terima kasih, Tuan’

Ia dengar suara kekasihnya
Dari alam sana. (2 des 2008)

Senin, Desember 01, 2008

Belum Juga Sanggup

dia duduk sendiri di balkon rindu
taman sudah lelap sedari tadi
kipas malam kian deras menuang sepi
ke dalam nafas kompor
yang tinggal sekepul di dalam hati

serusuk cemas
menancap di terminal dadanya
setiap kali kereta waktu
menghimpitkan dua jarumnya
malam menggelinding
bagai sebuah kaleng
mendendangkan rahasia perjalanan
seolah semua tingkap telah terjamah

lalu dia sibak langit
bulan warna jeruk masai
menatap kosong di atas kepala
seperti memutar kembali kisah celana
yang dijahit dengan getar jemari ibu
di salah satu sakunya pernah dia sembunyikan
sesuatu sepenuh debar
terus mendebar

tapi belum juga ia sanggup
membaca hangat denting fajar
dan malam pun tak ingin bersedih
(1 des 2008)

Senin, November 24, 2008

Kredo Ilalang

Kami lahir dari kentut tuan
Kian anggara di halaman
Menyelinap ke seluruh nafas
Memacakkan ribuan tunas
Kelak kami menjadi rimba
Menjadi sangkar sunyi
Dan di dalamnya, kau kehilangan suara
(24 nop 2008)

Terbelah Musim

: dedy, steven

kisah tua ini adalah rindu sahaja kanak-kanak kita
ketika kata-kata masih bersama berceloteh-ria
ketika kita bentang seutas tali agar merdu nada suara
adakah sesuatau tersembunyi di lidah dan kuping kita?

tapi waktu tak pernah bisa kita minta berjalan pelan
agar kita sempat membesarkan bunga di halaman
agar kelak ransel kita mengembang sepenuh asa
menuntun perjalanan tanpa marah dan luka

maka waktu berjalan sendiri menyeret silang langkah
hingga kita pun terbelah musim, tercerai dinding arah
engkau menyimpan beribu kartu tanpa ada nama kami
seperti pisau, yang mengakhiri tunas-tunas mimpi
(24 nop 2008)

Jumat, November 21, 2008

Tiga Kiblat Jumat

1/ Pengemis
di lapang gerbang rumah-Mu. tengadah kotak kami. nyalakan sekeping senyum. mata kami cekung. entah ke mana harus berkiblat. tak lagi peduli mengapa kami hadir di sini. selimut kami selalu terbaca iblis. yang menyemai ragu ke setiap hati. hingga redup api yang baru saja kuncup.

2/ Pedagang Kaki Lima
di pinggir jalan. senyum kami berdebu. setia mengerami nasib. puisi yang mungkin tak seberapa. tapi selalu kami puja sebagai hari esok. suara adzan bertalu-talu. tak membuyar khusyuk kami. menyimak setiap deru klakson bertikai. karena kami yakin, di sana ada sumbu. bagi terang senyum kami.

3/ Majelis Jumat
di dalam megahluas rumah-Mu. gerah wajah kami memelas. di antara pembicaraan kami. tentang jalan langit. jalan yang terus berdebu oleh malas kami. terkikis oleh angkuh kami. pembicaraan yang kian lama kian melankolik. pengantar tidur di sela iman dan nafsu kami.
(11 April - 21 nop 2008)

Seperti Mimpi

Kuarungi dingin samudera sunyi
Kutapaki jalan duri dan tak pasti
Hanya untuk mendengarmu bernyanyi:
Bangunlah, kau hanya bermimpi
(21 nop 2008)

Stanza Kemarau

Daun-daun berpamitan ketika kemarau bertamu
Mereka sudah mengerti, pohon perlu juga dipijat
Biar beralih lelah semusim dan rindu kembali muda
Kelak daun-daun berbakti menunaikan cinta abadi
Mendekap gairah akar dari mana rindu bermula
Menahan amuk angin yang terus mabuk asmara
(21 nop2008)